Kisah Nyata Hilangnya Dukuh Legetang Dalam Semalam

Ada sebuah kisah nyata yang terjadi dimasa lalu, yang sebagian besar orang mungkin tidak tahu atau bahkan telah melupakannya. Dan hingga kini peristiwa yang penuh makna ini sama sekali tidak pernah sedikit pun di bahas didalam buku pelajaran sekolah. Bahkan generasi muda sekarang mungkin tidak pernah tahu, kalau ternyata ada sebuah desa yang kelakuan penduduknya nyaris sama seperti kaum Sodom Gomorah di zaman Nabi Luth, Alaihi Salam.

Penduduknya senang bermaksiat, hingga akhirnya satu kampung bersama seluruh penduduknya lenyap dalam satu malam terkubur oleh bongkahan puncak sebuah gunung yang berada tidak jauh dari desa tersebut.

Inilah kisah tentang Dukuh Legetang, sebuah bencana di suatu malam tanggal 17 April 1955 yang menimpa sebuah pedukuhan di Desa Pekasiran, Banjarnegara, Jawa Tengah.

Pada saat itu, Dukuh Legetang merupakan sebuah dukuh yang makmur. Berbagai kesuksesan di bidang pertanian menghiasi kehidupan pedukuhan desa itu. Penduduknya sangat makmur dan mayoritas pekerjaan penduduk dukuh tersebut adalah sebagai petani. Mereka bertani sayur-sayuran, kentang, wortel, cabai, kol dan sebagainya.

Berbagai kesuksesan dan materi yang mereka peroleh dari hasil pertanian menghiasi dukuh Legetang. Misalnya jika di daerah lain gagal panen, mereka malah panen berlimpah. Kualitas sayur-sayuran dan hasil bumi yang dihasilkan juga lebih baik dari desa lain. Namun bukannya mereka bersyukur dengan segala kenikmatan yang mereka peroleh, mereka malah tenggelam bergelimang dengan kemaksiatan.

Masyarakat Dukuh Legetang umumnya ahli maksiat, perjudian dan minuman keras sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan penduduk dukuh ini. Setiap malam mereka mengadakan Lengger, sebuah pentas kesenian tari tarian yang dibawakan oleh para penari perempuan yang kemudian berujung kepada perzinaan, bahkan sampai ada perzinahan yang dilakukan oleh seorang anak bersama ibunya sendiri, dan berbagai kemaksiatan lain yang sudah sedemikian parah di dukuh ini.

Hingga akhirnya pada suatu malam tanggal 17 April 1955, turun hujan yang sangat lebat di dukuh itu, dan masyarakat Dukuh Legetang masih seperti biasanya, larut tenggelam dalam kemaksiatan. Setelah tengah malam barulah hujan reda, dan tiba-tiba terdengar suara keras seperti sebuah bom yang dijatuhkan dari langit, atau seperti suara benda yang teramat berat jatuh.

Suara dentumanya terdengar sampai ke desa-desa di sekitarnya. Namun pada malam itu tidak ada satupun warga yang berani keluar, karena selain keadaannya sangat gelap, juga jalannya sangat licin.

Baru pada pagi harinya, masyarakat yang ada di sekitar Dukuh Legetang keluar rumah untuk memeriksa bunyi apakah yang terdengar amat menggelegar tadi malam.

Mereka sangat terkejut ketika di kejauhan terlihat puncak gunung Pengamun-amun sudah terpotong puncaknya alias rompal. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ketika melihat Dukuh Legetang yang tadinya berupa lembah kini sudah tertimbun tanah dari potongan puncak gunung tersebut. Bukan saja tertimbun tapi sudah berubah menjadi bukit dan mengubur seluruh pedukuhan beserta warganya.

Hal aneh yang membuat masyarakat sekitar heran adalah, seandainya gunung Pengamun-amun benar-benar longsor, maka longsoran itu seharusnya menimpa lokasi di bawahnya. Akan tetapi kejadian ini jelas bukan gunung yang longsor, karena antara Dukuh Legetang dan Gunung Pengamun-amun terdapat sungai dan jurang yang sampai sekarang masih ada.

Namun sungai dan jurang itu sama sekali tidak terkena longsoran, hingga akhirnya masyarakat sekitar Legetang menyimpulkan bahwa potongan puncak gunung Pangamun-amun tadi malam terangkat dan jatuh menimpa dukuh Legetang.

Ketika sebuah kejadian tidak bisa lagi dicerna dengan akal sehat, saat itulah seharusnya akal tunduk kepada yang menciptakan akal itu sendiri dengan mengakui ke Maha Kuasaan Allah, siapa yang mampu mengangkat pucuk gunung itu kalau bukan Allah Yang Maha Kuasa?

Untuk mengenang kejadian tersebut, pemerintah setempat mendirikan sebuah tugu monumen yang sampai sekarang masih bisa kita lihat.

Ditugu tersebut ditulis dengan plat logam:

TUGU PERINGATAN 

ATAS TEWASNJA 332 ORANG

PENDUDUK DUKUH LEGETANG

SERTA 19 ORANG TAMU DARI

LAIN-LAIN DESA SEBAGAI 

AKIBAT LONGSORNJA

GUNUNG PENGAMUN-AMUN

PADA TG. 16/17-4-1955

Sungguh kisah terkuburnya dukuh Legetang dalam semalam ini menjadi peringatan bagi kita semua, bahwa azab Allah Azza wa Jalla tidak hanya terjadi di masa lampau, di masa para nabi, tetapi azab itu pun bisa menimpa kita di zaman sekarang.

Dan sangat mudah bagi Allah untuk mengazab manusia-manusia dzolim ahli maksiat hanya dalam hitungan detik. Andaikan di muka bumi ini tidak ada lagi hamba-hamba-Nya yang bersujud di tengah malam memohon ampunan-Nya, mungkin dunia ini sudah kiamat.

Related Post:
© Copyright 2021 Gumux Ranger Web Camp - All Rights Reserved | Diberdayakan oleh Blogger