Sejarah Pendakian Gunung di Dunia

Gunung, hutan dan lembah adalah bagian yang tak terpisahkan bagi para penggiat alam terbuka. Pendakian gunung merupakan salah satu jenis kegiatan yang telah berlangsung sekian abad yang lalu bahkan rutinitas kegiatan ini melahirkan berbagai jenis kegiatan alam terbuka lainnya. Untuk mengenali kegiatan pendakian gunung, alangkah baiknya jika kita mengetahui sedikit tentang awal mula kegiatan ini dijadikan sebagai kegiatan petualangan di alam bebas.

Sejarah Pendakian Gunung di Dunia

Kapan tepatnya kegiatan pendakian gunung mulai dilakukan agak rumit mencari datanya, tapi menurut cerita dari mulut kemulut dan dari berbagai arsip perpustakan, aktivitas di gunung sudah dimulai oleh para misionaris-misionaris untuk misi keagaamaan serta agen tentara untuk misi perang dan penjajahan.

Pada periode tahun 1490-an orang-orang disekitar pegunungan Alpen di Eropa sudah mulai naik turun gunung untuk keperluan mata pencaharian dan spiritualnya.

Ketika mata pencaharian bukan lagi sebagai alasan utama pada sekitar abad ke-16, orang-orang di desa sekitar pegunungan Alpen di Eropa dan Himalaya di Asia sudah banyak membicarakan teknik-teknik mendaki gunung. Pegunungan Alpen yang membujur diantara batas negara Swiss, Italia, dan Austria, saat itu belum seorang pun pernah menginjakkan kakinya di puncak tertingi pegunungan Alpen (Mont Blanc), orang-orang Inggris yang rata-rata aristokrat sering mengujungi lembah Chamonix di kaki gunung Mont Blanc untuk tujuan penelitian.

Masa pendakian gunung untuk penelitian ini berlangsung sampai zaman keemasan mendaki gunung kira-kira abad ke-19. Pada masa itu, mereka yang keluar masuk pegunungan Alpen adalah orang-orang yang ingin menjadi ‘yang pertama’ menginjakkan kaki di puncak-puncak gunung yang masih perawan.

Istilah yang pertama ini seperti menjadi prestasi agung dalam mendaki gunung, hal ini membuat masyarakat dikaki gunung akan bersorak-sorak menyambut kedatangan orang yang telah baru saja berhasil mencapai puncak gunung yang konon merupakan tempat naga gunung terlelap.

Penduduk asli lembah Chamonix hidup dari berburu dan mencari batu kristal di sekirat gunung Mont Blanc. Dan karena aktifitasnya ini membuat penduduk lembah Charmonix menghafal setiap kelokan di pegunungan Alpen (Mont Blanc) sehinga tidak mendapat kesulitan yang besar dalam menemukan jalur yang mudah hingga akhirnya sering diminta untuk dijadikan pemandu.

Awal Pencapaian Puncak Tertinggi di Dunia

Pada pertengahan abad ke 19, cerita tentang puncak tertinggi didunia telah tersiar ke telinga seluruh masyarakat dunia. Ini diketahui berdasarkan hasil survey Kantor Survey India terhadap puncak-puncak himalaya di Nepal pada tahun 1849 sampai 1855. Sebelum Everest ditemukan sebagai puncak tertinggi, Kanchenjunga merupakan yang tertinggi saat itu.

Upaya ekspedisi ke Everest telah dimulai sejak tahun 1893 oleh pihak kerajaan Inggris, namun tidak pernah menuai keberhasilan, ini dikarenakan oleh pihak Tibet dan Nepal tidak memberikan izin. Tahun 1905 upaya itu kembali dilakukan namun kegagalan kembali terjadi dengan masalah yang sama. 

Tahun 1913 seorang kapten muda J. B. L. Noel telah masuk ke wilayah Everest secara diam-diam dan di bulan Maret 1919 ia mempublikasikan hasil perjalanannya dihadapan the Royal Geographical Society.

Berkat laporannya itu The Royal Geogrhaoical Society dan The Alpine Club menyarankan untuk melakukan ekspedisi survey ke wilayah Everest. Sejak saat itu usaha memperoleh izin dari pemerintah setempat gencar dilakukan dan diakhir tahun 1920 akhirnya pihak Inggris berhasil memperoleh izin dari pemerintah Tibet untuk melakukan Ekspedisi.

Tahun 1921 di bulan Maret ekspedisi ke Everest pertamakali dilakukan oleh Inggris, ini merupakan ekspedisi pertama di dunia dalam usaha mencapai puncak Everest. Ekspedisi yang beranggotakan 11 orang dengan bantuan 16 pendukung serta ratusan binatang pengangkut barang dilakukan dengan melalui rute Darjeeling (India) dan menuju Everest melalui Tibet. 

Ekspedisi yang dilakukan ini tidak menargetkan pada pencapaian puncak Everest akan tetapi bertujuan untuk mengeksplorasi jalur pendakian mencapai puncak Everest. Titik tertinggi yang dicapai dalam ekspedisi ini 23.000 feet di jalur utara.

Pada bulan April 1922 ekspedisi kedua dilakukan untuk mencapai puncak Everest melalui dataran tinggi Tibet, pendaki yang terlibat dalam ekspedisi ini sama dengan ekspedisi sebelumya yaitu George Mallory, namun dalam upaya ini ia belum menemukan keberhasilan.

Pada bulan Mei tanggal 24 melalui rute North Col, Goerge Mallory, Geoffrey Bruce, Tejbir, Kapten Noel dan 12 porter yang membawa tabung oksigen melanjutkan cita-cita mereka untuk mencapai puncak Everest (BW12 Februari-Maret 2002 ), terdiri dari 13 orang bangsa Inggris, 16 orang bangsa Nepal, 100 orang pengangkut beban dari Tibet, dan 300 binatang juga pengangkut beban (BW. Edisi Juni-Juli 2006) .

Setelah melewati badai salju di Camp North Col akhirnya mereka dapat mencapai ketinggian 26.000 feet dan melewati North Face Everest dengan cara traversing, dengan bantuan tabung oksigen ia dapat mencapai ketinggian 27.000 feet, diketinggian itu ia kemudian melanjutkan lagi dengan memanjat diagonal menuju titik tinggi North East Ridge dan berhasil mencapai ketinggian 27.300 feet. Ditempat ini ia hanya dapat memandangi gunung Cho Oyu (27.000 feet), lembah Rongbuk serta puncak barat Everest.

Sejak tahun 1921 dilaksanakannya ekspedisi ke Everest dalam jangka waktu 30 tahun ada 10 ekspedisi yang telah dilakukan. Ke-10 eksepedisi ini berakhir dengan kegagalan bahkan telah merenggut nyawa para pendaki, diantaranya George Mallory dan Irvine yang tergabung dalam ekspedisi ke-3 inggris pada tahun 1924.

Pada tanggal 8 Juni 1924 kabar tentang hilangnya Goerge Mallory dan Irvin mencuat, hingga akhirnya pada tahun 1933 kapak es Irvine ditemukan pada ketinggian 8.230 meter dan baru pada tahun 1999 (73 tahun setelah hilang) giliran jasad Goerge Malorry ditemukan secara utuh bersama kaca mata salju, altimeter dan pisau lipat.

Setelah ekspedisi Inggris yang ke-3 dilakukan pada tahun 1924, daerah Tibet dan Nepal ditutup untuk orang asing selama 9 tahun, namun pada tahun 1933 kedua pemerintah wilayah ini kembali membuka diri, dan untuk ke-4 kalinya Inggris memperoleh izin untuk melakukan ekspadisi ke Everest.

Ekspedisi Inggris kali ini dipimpin seorang pendaki Alpen dan Himalaya yaitu Hugh Ruttledge. Tim Ingris saat itu beranggotakan 14 pendaki, yang ikut didalamnya pendaki ternama seperti Frank S. Smythe dan Eric Shipton. Ekspedisi kali ini tetap sama dengan ekspedisi sebelumya, mereka belum juga bisa mencapai puncak Everest bahkan titik tertinggi yang berhasil dicapai Goerge Mallory dan Irvine pada tahun 1924 (ketinggian 28.000 feet) tak bisa dilampaui.

Setelah ekspedisi ini ditahun 1935, 1936, dan 1938 Inggris masih tetap bersemangat melakukan ekspedisi, dengan pimpinan eksedisi Eric Shipton, namun hasilnya tetap sama dengan ekspedisi sebelumnya bahkan ketinggian yang dicapai Goerge Mallory belum tertandingi. Berakhirnya ekspedisi Inggris yang ke-7, wilayah Nepal dan Tibet kembali ditutup akibat perang dunia II meletus dan Everest saat itu kembali hidup tenang dan damai, tak terusik manusia-manusia yang ingin menjamahnya (BW: 91:Juni-Juli 2006)

Tahun 1952 kabar mengenai Everest kembali tersiar, lewat tim Ekspadisi Swiss yang ingin mencapai titik tertinggi. Ekspedisi ini berakhir dengan kegagalan dan ia hanya berhasil mengantarkan dua orang dalam timnya yaitu Lambert dan Tenzing Norgay yang hanya mencapai ketinggian 8.550 meter. Setelah kegagalan Swiss, Inggris kembali menyiapkan tim untuk ekspedisi di tahun berikutnya.

Tim Inggris yang dibentuk kali ini dipimpin oleh seorang Colonel John Hunt yang beranggotakan 10 pendaki dan seorang dokter. Ekspedisi yang dilakukan Inggris, ini merupakan yang ke-11 dalam usaha pencapaian puncak Everest.

Tanggal 9 April 1953 tim Inggris membentuk kelompok kecil dimana didalamnya terdiri dari Tom Bourdillon, Alfred Gregory, Charles Wylie, Edmund Hillary, Griffith Pugh, Michael Westmaccott, George Band, George Lowe, Tenzing Norgay, Charles Evans, dan Stobart memulai perjalanan dengan ditemani 5 orang sherpa berpengalaman dan 39 orang porter menuju puncak Everest melalui Khumbu Ice Fall dan tembus ke Western Cwm (BW: 83; edisi Nov-Des 2006).

Dalam perjalanan ini, cuaca buruk terus membayanginya, badai salju yang berlangsung sehari semalam tak juga reda, akkibatnya 4 orang porter mengundurkan diri karena buta salju, dan pada tanggal 29 Mei 1953, Sir Edmund Hillary dan Tenzing Norgay berhasil menjadi orang pertama yang berdiri dipuncak gunung Everest (Summit).

Sejak Everest telah disentuh oleh manusia melalui ekspedisi yang diawali pada tahun 1921, pendakian ke puncak Everest telah menewaskan 130 orang hingga tahun 1996 (Krakauer: 1994:27).

Kebanyakan para pendaki gunung telah mengetahui, bahwa untuk berdiri dipuncak Everest tidaklah mudah karena butuh biaya yang mahal, pengalaman mendaki dan keberanian

Bahkan sebagian orang mengatakan bahwa, orang-orang yang berambisi untuk menaklukkan puncak Everest adalah orang yang tidak berpikiran sehat, namun sebuah kenyataan yang sulit untuk dimengerti dalam jiwa para pendaki tentang mengapa mereka melakukan kegilaan itu.

Dan ketika Goerge Mallory di tanya oleh para wartawan mengapa ia mau mendaki Everest?

Goerge Mallory hanya menjawab singkat “Because It's There”.

Banyak orang yang bermimpi untuk berdiri dipuncak gunung tertinggi di bumi ini dan orang terus berusaha untuk mencapainya, beragam teori-teori pendakian tercipta, mulai dari penggunaan tabung oksigen, cara berjalan digunung es, penyesuaian diri, hingga lahirnya upaya untuk mencapai everest tanpa bantuan oksigen.

Tahun 1993 Mike Broom orang yang bekerja sebagai tukang kayu dan sesekali menjadi pemandu pendakian, telah mendaki Everest tanpa menggunakan bantuan oksigen (Krakauer:1994;101). Tahun 1990 komersialisai Everest bermunculan, dua perusahaan yang bergerak dalam jasa pendakian everest terkemuka yaitu Adventure Consultans dengan pimpinan Rob Hall dan Mountain Madness dengan pimpinan Scoot Fischer telah mengantar beberapa kliennya mencapai puncak Everest.

Referensi :

  • Buletin Wanadri, Edisi 12 Februari-Maret 2002
  • Buletin Wanadri. Edisi Juni-Juli 2006
  • Buletin Wanadri. Edisi November-Desember 2006
  • Eiger Adventure News, Edisi 50 Januari-Februari 2008
  • Krakauer Jon, Into Thin Air, 1994, Bandung, Penerbit Qanita
  • Sukandar Dadang,Rock Climbing, 2006, Yokyakarta, Penerbit Andi
  • Sukandar Dadang, Berburu Nyali di Tebing Emas, 2006, Yokyakarta, Penerbit Andi

Related Post:
© Copyright 2021 Gumux Ranger Web Camp - All Rights Reserved | Diberdayakan oleh Blogger