Natural Intelligence Farming Konsep Pertanian Muslim yang di Adopsi Israel

Abu zakariya Yahya Ibnu Muhammad Ibnu Ahmad Al Awwam atau Ibnu Al Awwam adalah seorang cendekiawan muslim yang berhasil menyelamatkan Andalusia atau Spanyol saat ini dari bencana kelaparan karena rusaknya tanah-tanah pertanian di sana saat itu.

Ibnu Al Awwam berhasil membangkitkan kembali dunia pertanian di Andalusia dari keterpurukan dengan izin dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, kemudian beliau menulis sebuah kitab bernama Al Filaha atau Buku Pertanian Muslim, kitab ini memiliki total 34 bab dan 30 bab menjelaskan tentang pertanian, sedangkan 4 bab sisanya menjelaskan tentang peternakan

Di masa sekarang 80% lebih pertanian di Israel menggunakan metode pertanian yang berlandaskan pada kitab Al Filaha karya Ibnu Al Awwam, dan di Israel mereka memperkenalkannya dengan istilah Natural Intelligence Farming.

Berikut rangkuman kitab Al Filaha khususnya 30 bab yang membahas tentang pertanian.

1. Keyakinan akan Sang Pencipta Allah Subhanahu Wa Ta'ala

Di abad ke-12 belum ada teknologi seperti mikroskop tapi beliau tahu bahwa ada kehidupan penunjang pertumbuhan di dalam tanah, dan beliau juga tahu bahwa sang Pencipta telah menciptakan semuanya dengan seimbang

2. Pemilihan lahan yang cocok untuk jenis tanaman

Untuk hal yang satu ini saya rasa sudah sejalan dengan metode pertanian di masa sekarang, ditambah lagi kondisi tanah di Indonesia yang rata-rata cocok untuk tanaman-tanaman inti seperti palawija dan hortikultura jadi tak ada masalah dengan ini.

3. Kemampuan menjaga kestabilan mikroorganisme didalam tanah

Yaitu dengan memberi makan pada mikroorganisme ini dengan materi organik, materi organik ini tidak harus berupa kotoran hewan, bisa berupa sisa-sisa tumbuhan atau sisa-sisa batang dan dedaunan tanaman saat panen, dan perlu diingat bahwa ada perbedaan antara pupuk organik dan materi organik.

Pupuk organik adalah bahan organik seperti kotoran hewan atau tumbuhan yang difermentasi dan diaplikasikan ke tanaman pasca tumbuh, sementara materi organik adalah kotoran hewan atau sisa-sisa yang ditebar di areal budidaya sebelum proses penanaman atau bersamaan dengan pengolahan tanah.

Di era Ibnu Al awwam setelah panen mereka selalu merajang sisa-sisa tanaman seperti batang jagung, gandum dan lainnya, yang bertujuan untuk memberi makan kehidupan yang ada didalam tanah agar ekosistem nya tetap terjaga dan hal ini erat kaitanya dengan poin pertama

 4. Bibit atau Benih Tanaman

Yang keempat ini adalah yang cukup krusial karena hal ini adalah sesuatu yang tidak kita miliki pada saat sekarang, yaitu bibit atau benih.

Di era Ibnu Al Awwam bibit-bibit tanaman dan holtikultura belum mengalami engineering seperti di masa sekarang, semuanya masih asli atau original, sehingga masih sangat kebal terhadap berbagai hama penyakit, sangat berbeda dengan di zaman sekarang, dimana bibit-bibit sudah dirubah menjadi varietas hibrida yang sangat rentan terhadap hama penyakit dan sangat bergantung kepada pestisida dan pupuk kimia. Sementara bibit tanaman yang asli atau original disimpan oleh para korporasi penguasa industri pertanian.

5. Penanggulangan hama penyakit

Di era Ibnu Al Awwam penanggulangan hama penyakit cenderung lebih mudah, karena selain ditopang oleh tanah yang sehat, tanaman juga memiliki sistem kekebalan yang baik, berbanding terbalik dengan di masa sekarang di mana tanaman ditopang oleh tanah yang rusak dan beracun

Juga tanaman hasil engineering yang nyatanya sangat rentan terhadap hama penyakit, Oleh sebab itu di era Ibnu Al Awwam penggunaan pestisida hampir tidak diperlukan, kondisi lingkungan dalam hal ini serangga juga sangat stabil ekosistemnya, sehingga keberlangsungan rantai makanan antar serangga masih sangat terjaga.

Di masa sekarang penggunaan insektisida terutama yang berbahan kimia justru lebih banyak membunuh predator alami hama tanaman dibandingkan dengan hama sasaran, sehingga tak heran jika ledakan populasi hama tanaman adalah peristiwa yang biasa terjadi.

Di era modern ini penggunaan pestisida terutama dari golongan insektisida sudah tidak terkendali lagi. Kenapa demikian, karena bahan aktif dari insektisida ini justru menyebabkan hama menjadi kebal, seperti wereng thrips kutu aphids, ulat grayak dan lain-lain, karena memang seperti itu tujuan diciptakannya pestisida tapi baru sedikit dari kita yang menyadarinya.

6. Rotasi tanam

Menurut sang penulis Ibnu Al Awwam rotasi tanam sangatlah penting dalam rangka untuk menekan perkembangan hama penyakit, hal ini sudah sejalan dengan konsep pertanian di masa kini dan saya yakin kita semua sudah menyadari akan hal ini.

7. Penyubur tanaman

Di era Ibnu Al Awwam belum ada pengetahuan tentang pupuk kimia seperti saat ini, kalaupun sang penulis hidup di zaman sekarang, sudah pasti pupuk kimia ini akan ditentang oleh beliau, karena memasukkan racun ke dalam tanaman yang dikonsumsi manusia tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Di masa itu, Ibnu Al-Awwam menggunakan bahan-bahan herbal dan sisa-sisa tanaman sebagai penyubur tanaman, Kebanyakan yang dipakai adalah hasil fermentasi dedaunan hijau dari tanaman jenis kacang-kacangan yang menghasilkan nitrogen alami tanpa residu seperti pupuk kimia.

Lalu mungkin akan timbul pertanyaan Apakah Ibnu Al Awwam juga menggunakan batu fosfor dan kalium? jawabnya tentu saja tidak, justru penggunaan batu fosfor dan kalium adalah yang paling dilarang, karena Ibnu Al-Awwam tahu bahwa kedua bahan itu adalah penyebab rusaknya tanah, untuk jangka pendek mungkin bagus, tapi untuk jangka panjang jelas sangat buruk dan merusak.

Dengan semakin majunya penelitian di masa sekarang kita mengetahui bahwa fosfor dan kalium adalah penyebab utama dari naiknya zat asam di dalam tanah, solusi alami dari masalah ini adalah rhizobacteria dan jamur mychoriza yang mampu menghasilkan fosfor dan kalium alami dalam jumlah yang ideal.

8. Irigasi

Irigasi di dalam kitab Al Filaha adalah sesuatu yang sangat unik, karena dengan memberikan materi organik yang cukup, tanah secara otomatis memiliki kemampuan untuk menyimpan air lebih lama di musim kemarau, ditunjang dengan kemampuan akar tanaman yang mampu menyerap air dan nutrisi lebih jauh kedalam tanah, sehingga penyiraman di musim kering pun bisa diminimalisir, sebaliknya di musim penghujan pori-pori sangat terbuka sehingga menjadikan air lebih mudah untuk menyerap jauh ke dalam tanah dan tidak mengganggu areal perakaran tanaman

Itulah Al Filaha sebuah konsep pertanian yang sangat jenius dari seorang cendikiawan muslim bernama Ibnu Al Awwam, dengan konsep pertanian ini Andalusia bukan hanya berhasil keluar dari keterpurukan tapi juga sekaligus mampu melahirkan sejarah ekspor pangan pertama di Eropa karena melimpahnya hasil pertanian Andalusia di masa itu.

Related Post:
© Copyright 2021 Gumux Ranger Web Camp - All Rights Reserved | Diberdayakan oleh Blogger